03 December 2015

Tips Menentukan Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Membeli Asuransi



Saya mempunyai seorang kenalan pengusaha yang sukses. Bisnisnya berkembang dan maju begitu pesat hingga dia begitu teliti dan sibuk melindungi hartanya dari risiko. Dia mengasuransikan pabrik, gudang, toko, rumah dan mobilnya. Akan tetapi, setiap disinggung mengenai perlindungan terhadap diri dan kesehatannya, dia selalu menjawab "Harta yang saya miliki sekarang sudah cukup jika saya meninggal atau ada anggota keluarga yang sakit."

Namun, hidup tidak selamanya indah, roda kehidupan terus berputar dan kenyataan sering kali tidak seindah yang diprediksi dan diharapkan. Sewaktu terjadi krisis dan gonjang ganjing ekonomi, bisnisnya meredup, satu persatu harus ditutup dan tidak pernah bangkit lagi. Seiring dengan menurunnya harta maupun bisnisnya, tagihan yang jatuh tempo akibat gaya hidup yang terlanjur tinggi pun menumpuk dan sejak itu kesehatannya pun mulai bermasalah.

Disaat situasi dan kondisi ekonominya terus menurun, dia divonis dokter terkena penyakit jantung yang harus segera dioperasi. Dia memutuskan untuk melakukan operasi di Singapura dan meskipun operasinya sukses, kondisinya terus memburuk dan makin lemah akibat munculnya komplikasi dengan penyakit lain. Biaya operasi, pengobatan dan perawatannya menghabiskan sebagian besar hartanya. Lima tahun setelahnya, dia meninggal. Hartanya habis dan hutangnya pun menumpuk. Warisan yang ditinggalkan untuk istri dan ketiga anaknya hanyalah rumah yang mereka tinggali. Itu pun terpaksa harus dijual cepat untuk biaya hidup, modal usaha dan membeli rumah yang sangat sederhana. Seandainya dia melindungi diri dengan Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan seperti dia melindungi hartanya, mungkin jalan hidupnya tidak terlalu suram dan menyedihkan seperti itu.



Tetangga saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama, meskipun kondisi ekonomi biasa-biasa saja, dia disiplin menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membeli polis Asuransi. Ketika, musibah tak terduga datang, dia terlibat kecelakaan fatal di jalan tol antar kota dan meninggal di tempat, istri dan anak-anaknya menerima santunan Rp.2 Milyar dari perusahaan asuransi, cukup untuk melanjutkan hidup keluarga, pendidikan anak dan modal untuk istrinya memulai usaha. ( Cara Praktis Menghitung Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa Yang Tepat Untuk Anda )

Kenapa Asuransi bisa melindungi seseorang terhadap risiko yang mungkin terjadi pada setiap orang? Tidak ada yang berharap tertimpa musibah atas diri dan keluarganya, tapi siapa yang bisa memilih? Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kematian dan penyakit pasti datang pada setiap orang. Hanya masalah waktu, kapan?  Penyakit apa? Tidak dapat dipungkiri, semakin berumur seseorang semakin rentan terkena penyakit berat yang bisa menyebabkan hidup seseorang berakhir. Apakah kita mau terlunta-lunta sedih ketika penyakit datang tanpa pengobatan yang memadai dan menyusahkan semua orang di sekitar kita?

Lalu, sebenarnya kapan seseorang memerlukan proteksi Asuransi? Mustinya sih "kemaren-kemaren" atau sejak dini. Jika tunggu membutuhkan asuransi mungkin sudah terlambat karena risiko yang kita takuti tersebut sudah menimpa. Padahal, risiko terjadinya Kematian, kecelakaan atau sakit bisa datang kapan pun pada siapapun tanpa pandang bulu. Mengapa banyak sekali di antara kita yang belum sadar untuk menyediakan payung perlindungan untuk memproteksi diri dan keluarga dari bencana yang bisa memporak-porandakan urat nadi kehidupan keluarga?



Ada 5 alasan penyebab orang belum memiliki asuransi atau proteksi

1. Ketidaktahuan. Orang-orang ini sudah mendengar tentang asuransi, tapi tidak tahu seperti apa dan bagaimana itu asuransi.

2. Kesalahpahaman. Orang-orang ini pernah menerima informasi yang salah atau pernah mengalami pengalaman buruk.

3. Kelalaian. orang-orang ini sudah mengerti apa itu asuransi, tapi lalai dan mempunyai segudang alasan untuk menunda-nunda.

4. Ketidakpedulian. Orang-orang ini menganggap asuransi memang berguna tapi siapa yang peduli, toh semua orang pasti mengalaminya. Kelompok orang ini adalah penjudi yang berharap risiko buruk masih akan menghampiri orang lain, bukan dirinya.

5. Ketidakmampuan secara ekonomi.



Memiliki asuransi sama seperti memiliki dan melakukan hal-hal preventif dalam hidup ini. Yang intinya mengamankan, memproteksi, melindungi tujuan-tujuan dalam hidup agar bisa tercapai.

Seorang pencari nafkah membeli asuransi karena dia ingin anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikan hingga tamat sesuai impian mereka dengan atau tanpa kehadiran si pencari nafkah di masa depan.

Setiap mobil membawa ban serep ketika berkendara, bukan berarti mengharapkan ban mobil kita bocor. Tetapi, jika ban mobil harus bocor pun, kita tetap bisa sampai ke tujuan.

Memakai sabuk pengaman sewaktu mengendarai mobil, bukan artinya kita berharap terjadi kecelakaan. Namun, jika mengalami kejadian, dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

Memakai Helm sewaktu berkendara dengan sepeda motor, apakah kita berharap untuk jatuh? Tidak. Namun, jika terjadi hal yang tidak terduga, kepala kita sudah terproteksi dari benturan benda keras yang bisa berakibat fatal.

Memasang gembok pada pintu rumah, meski tidak pernah kemalingan.

Membawa payung, meski tidak tahu akan hujan.

dan sebagainya....

Karena jalannya hidup tidak bisa ditentukan sendiri sesuai selera dan keinginan masing-masing, maka terciptalah barang-barang tersebut yang digunakan sebagai pencegahan dalam kehidupan ini. Apa yang terjadi jika anda baru mau memakai, membawa, membeli atau memilikinya setelah dibutuhkan?

Memakai sabuk pengaman ketika sudah terjadi tabrakan. Telat

Memakai helm sewaktu kepala sudah terluka karena terjatuh dari motor. Telat

Memasang gembok disaat sudah kemalingan. Telat

Mencari payung ketika sudah basah kuyup kehujanan. Telat

Demikian juga asuransi, jangan sampai anda telat.



0 comments:

Post a Comment